Taruhan Pusat Data Hijau Singapura: Bagaimana 734 Kilometer Persegi Menjadi Pasar AI Paling Kompetitif
Singapura menyajikan paradoks yang mustahil. Negara-kota seluas 734 kilometer persegi menampung lebih dari 1,4 gigawatt kapasitas pusat data dengan tingkat kekosongan di bawah 1,4%.[^1][^2] Suhu rata-rata mencapai 33°C dengan kelembaban di atas 80%.[^3] Namun Singapura telah menjadi pusat infrastruktur digital dominan di Asia Tenggara.
Dari Moratorium ke Pertumbuhan Terkelola
Singapura melarang pembangunan pusat data baru pada 2019, khawatir tentang konsumsi sumber daya di mana pusat data sudah mengonsumsi 7% dari total listrik.[^9]
Larangan 2019
| Faktor | Kekhawatiran |
|---|---|
| Konsumsi listrik | 7% dari total nasional |
| Pangsa yang diproyeksikan | 12% pada 2030 |
| Kelangkaan lahan | 734 km² total area |
DC-CFA2: Peluang 200MW
Pada 1 Desember 2025, DC-CFA2 diluncurkan, panggilan kedua untuk aplikasi.[^14]
Struktur Program
| Aspek | Persyaratan |
|---|---|
| Alokasi dasar | 200MW minimum |
| Batas waktu | 31 Maret 2026 |
| Persyaratan energi hijau | 50% dari sumber yang disetujui |
| Persyaratan PUE | 1,25 pada beban penuh |
Pulau Jurong: Taman 700MW Rendah Karbon
Pengumuman paling ambisius Singapura: taman pusat data 700MW rendah karbon di Pulau Jurong.[^21]
Dampak Kapasitas
Penambahan 700MW akan meningkatkan total pasokan pusat data Singapura sekitar 50%.[^25]
Poin Utama
- DC-CFA2: 200MW dengan mandat 50% energi hijau
- Pulau Jurong: 700MW kapasitas tambahan direncanakan
- Kekosongan 1,4%: Pasar paling ketat di APAC
- PUE 1,25: Persyaratan paling ketat di Asia-Pasifik
- Batas waktu: 31 Maret 2026 untuk aplikasi